
Penulis: Fera Ludji
Editor : Rudi Mandala
Rote Ndao- SuaraNkri Com — Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Baa terus mendorong pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui pelatihan keterampilan pembuatan abon ikan dan dendeng ikan, Rabu (27/5/26).
Kegiatan yang berlangsung di dapur Lapas tersebut merupakan hasil kerja sama dengan PKBM Zaitun dalam upaya meningkatkan kemampuan WBP menghasilkan produk olahan yang bernilai ekonomis.
Pelatihan dihadiri langsung oleh Kepala Lapas Kelas III Baa, Hariyadi N. Maikameng, bersama jajaran pejabat struktural dan pegawai, Ketua PKBM Zaitun, Sifera A. L. Panie, beserta tim, Kepala Seksi PKLK Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Rote Ndao, Charles Lilo, serta warga binaan peserta pelatihan.
Kegiatan dipandu oleh instruktur, Marlen Latupeirissa, yang memberikan pendampingan langsung terkait proses pengolahan ikan hingga menjadi abon dan dendeng yang siap dipasarkan.
Kalapas Baa, Hariyadi N. Maikameng, mengatakan bahwa pelatihan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap warga binaan memiliki keterampilan produktif yang dapat menjadi bekal kemandirian setelah bebas nanti. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung program ‘1 Lapas 1 Produk’ yang terus kami dorong pengembangannya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PKBM Zaitun, Sifera A. L. Panie, mengapresiasi dukungan jajaran Lapas Baa dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia menyampaikan bahwa produk abon ikan dan dendeng ikan hasil karya warga binaan ditargetkan akan dipasarkan pada Festival Pameran HUT RI Ke-81 di Kabupaten Rote Ndao pada Agustus mendatang.
“Kami melihat potensi besar dari hasil karya warga binaan. Ke depan, produk ini diharapkan tidak hanya menjadi hasil pelatihan, tetapi juga mampu memiliki daya saing dan nilai jual di masyarakat,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Lapas Baa bersama PKBM Zaitun berencana melakukan pendampingan berkelanjutan, peningkatan kualitas produksi, hingga pengurusan izin edar dan sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan agar produk hasil karya warga binaan memiliki legalitas dan peluang pemasaran yang lebih luas.


