
Penulis: Rudi Mandala
Rote Ndao – SUARANKRI COM – 9 Februari 2026 – Dalam upaya mempercepat penurunan Unmet Need Keluarga Berencana (KB) di wilayah prioritas, Puskesmas Korbafo Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, menggelar pelayanan KB serentak bertajuk Momentum PANTAU KB. Kegiatan ini berhasil melayani sebanyak 50 akseptor KB, khususnya ibu-ibu pasca persalinan yang memilih metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) implan dan IUD.
Kepala Puskesmas Korbafo, dr. Defrima Haning, memimpin langsung acara yang berlangsung ramai di Ruangan KIA Puskesmas Korbafo pada Senin (09/02/2026),
Didampingi Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Pantai Baru, Harleni Pella, S.I.Kom, serta dua Penyuluh KB (PKB) Marleni Modok, SP, dan Toni Hau, SH,
Pelayanan ini menjadi bukti komitmen tim kesehatan setempat dalam mendukung program KB nasional.” Momentum PANTAU KB ini adalah kesempatan emas untuk menggarap Unmet Need KB di wilayah prioritas seperti Kecamatan Pantai Baru.
“Kami fokus pada akseptor pasca salin karena mereka paling rentan terhadap kehamilan berisiko tinggi. Hari ini, 50 akseptor telah dilayani dengan MKJP implan dan IUD yang aman, efektif, dan gratis,” ujar dr. Defrima Haning dengan penuh semangat saat membuka kegiatan.
Pelayanan serentak ini merupakan bagian dari strategi Percepatan Penurunan Unmet Need KB (PANTAU KB) yang digulirkan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupten, Rote Ndao yang mayoritas penduduknya tinggal di pedesaan, Unmet Need KB masih menjadi tantangan utama.
Harleni Pella, S.I.Kom, menambahkan bahwa koordinasi intensif antara penyuluh KB dan tim puskesmas menjadi kunci sukses.
“Kami telah melakukan pendataan door-to-door sejak minggu lalu. Penyuluh seperti Ibu Marleni Modok dan Bapak Toni Hau berperan besar dalam membina akseptor, menjawab keraguan, dan memastikan proses pemasangan berjalan lancar.
Hasilnya, 30 akseptor memilih implan dan 20 lainnya IUD,” jelasnya.
Salah satu akseptor, Serli Pelle ibu rumah tangga dari Desa Tesabela, mengungkapkan kegembiraannya.
“Setelah melahirkan anak keempat bulan lalu, saya khawatir hamil lagi terlalu cepat. Alhamdulillah, hari ini dipasang implan oleh tim dokter. Prosesnya cepat, tidak sakit, dan saya bisa lanjut bekerja di kebun sambil menjaga jarak kelahiran ideal dua tahun,” ceritanya sambil tersenyum.
Kegiatan ini tidak hanya menyediakan layanan medis, tetapi juga dilengkapi dengan penyuluhan komprehensif. Tim PKB memberikan edukasi tentang manfaat MKJP, efek samping minimal, serta hak reproduksi perempuan.
Selain itu, peserta diajak diskusi kelompok untuk berbagi pengalaman, sehingga menciptakan suasana akrab dan saling mendukung.dr. Defrima Haning menekankan dampak jangka panjang dari pelayanan ini.
“Dengan 50 akseptor baru hari ini, kami optimis bisa menekan angka kemiskinan struktural akibat keluarga besar. KB bukan hanya soal kontrasepsi, tapi investasi untuk kualitas hidup masyarakat Pantai Baru. Kami targetkan Unmet Need turun 10 persen tahun ini melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao dan BKKBN,” tambahnya
Marleni Modok, SP, dan Toni Hau, SH, sebagai ujung tombak di lapangan, turut berbagi pengalaman. “Sebagai penyuluh, kami senang melihat antusiasme akseptor. Implan dan IUD efektif hingga 3-5 tahun, cocok untuk ibu-ibu pekerja di sini yang sulit datang rutin,” kata Marleni.


